Penjara Semakin Keras Untuk Orang Berbahaya

Penjara Semakin Keras Untuk Orang Berbahaya

Lambung karena terlibat pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Direktur PT Putra Rajawali Banjaran. Hakim memvonis Sigid dengan hukuman 15 tahun penjara. Dia bebas bersyarat pada September 2015. Selepas dari penjara, manuver politik Sigid terekam saat kisruh pemecatan Fahri Hamzah sebagai kader Partai Keadilan Sejahtera. Dua pekan sebelum surat itu diumumkan secara resmi, Sigid menenteng surat itu ke Setya Novanto dan Fadli Zon.

Fahri membenarkan informasi ini. ”Dia menunjukkan surat pemecatan saya ke kolega saya di DPR,” kata Fahri. Sigid menampik informasi ini, ”Info dari mana itu?” Menjelang Munaslub Golkar, Sigid bergerak gesit. Dia mengikuti irama pemerintah mendukung Setya Novanto. Kemenangan Setya menjadi pintu masuk Sigid ke partai lamanya itu meskipun jalannya tak mulus. Seorang politikus bercerita, Nurdin Halid dan Setya sempat bersitegang soal Sigid dan Fahd dalam rapat formatur di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa dua pekan lalu.

Politikus ini menuturkan, Nurdin tak ingin Yahya Zaini, Fahd El Fouz, dan Sigid masuk pengurus. Alasannya, nama-nama ini bisa membebani citra partai. Setya ngotot. Kemarahan Setya ditunjukkan dengan meninggalkan ruangan dan tak kunjung kembali hingga rapat berakhir. Tim formatur berkompromi. Yahya dicoret, dua lainnya tetap masuk. Anggota formatur, Roem Kono, memilih bungkam soal siapa yang memasukkan nama Sigid ke struktur pengurus. ”No comment,” ucapnya. Formatur lain, Nurdin Halid, meminta Tempo menanyakan kepada Setya soal Sigid. ”Dia usulan formatur Jawa Timur,” kata Nurdin.

Sigid juga tak bersedia menjelaskan pintu masuknya. ”Saya ini cuma wayang. Disuruh masuk penjara saja saya masuk,” ujarnya. Setya mengakui adanya tarik-ulur soal Sigid dalam pembahasan bersama tim formatur. Menurut dia, ketua umum memiliki hak istimewa untuk memutuskan namanama tertentu. Termasuk mantan narapidana. Namun dia juga tak menjawab tegas apakah Sigid merupakan orang dekat Panglima TNI. ”Saya tidak tahu. Saya tinggal teken,” katanya. Selain Sigid, nama lain yang sempat alot diperdebatkan adalah politikus muda Golkar, Fahd El Fouz.

Ketua Umum Generasi Muda Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong ini dikenal sebagai salah satu orang kepercayaan Setya. Pada 2012, dia terjerat kasus korupsi dana penyesuaian infrastruktur daerah. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan vonis dua tahun enam bulan. Keluar dari penjara pada September 2014, Fahd dengan cepat membangun karier politik.

Pada Juni 2015, dia menggelar Kongres Luar Biasa Komite Nasional Pemuda Indonesia di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, atas dukungan Setya Novanto. Hasilnya, dia terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum. Meskipun tidak hadir, Setya mengirimkan karangan bunga atas penyelenggaraan acara ini. Selama kampanye Setya menjelang Munaslub Golkar di Bali, Fahd jugalah yang terus mendampingi.

Seorang anggota tim sukses Setya mengatakan Fahd menjadi juru bayar kepada kader daerah pendukung Setya. Nilainya Rp 3 miliar untuk Golkar provinsi dan Rp 300-600 juta untuk tingkat kabupaten/kota. Fahd juga menjadi juru bayar untuk wartawan yang membantu menulis berita-berita Setya di Bali. Fahd membantah tudingan ini. ”Itu tidak benar. Masak, saya terus dituduh-tuduh?” kata Fahd. Kedekatan Setya dengan Fahd juga dihubungkan oleh seorang pengusaha minyak, salah satu pemegang saham PT AirAsia Indonesia.

Sejumlah politikus di Golkar menuturkan mendapat tugas khusus dari sang pengusaha, yaitu menggratiskan transportasi untuk para pendukung Setya via maskapai penerbangan AirAsia. Fahd membenarkan informasi ini. Namun, ”Saya cuma memberangkatkan 30 orang,” katanya. Politikus lain di Golkar menuturkan, Fahd juga diberi kepercayaan oleh Setya untuk membeli pesawat pribadi.

Rencana ini terlontar saat pengumuman kepengurusan pada Senin pekan lalu. Pekan lalu, kata politikus ini, Setya meminta Fahd pergi ke Bangkok untuk melihat-lihat pesawat pribadi. Pembelian pesawat pribadi ini bertujuan memudahkan mobilitas Setya berkunjung ke daerah. Putra almarhum pedangdut A. Rafiq ini membenarkan kepergiannya ke Bangkok tapi tak terkait dengan urusan pembelian pesawat.

”Mana ngerti saya soal pesawat, bahasa Inggris saja tak bisa,” kata Fahd. Dikritik kiri-kanan, Fahd tampak berhatihati menjawab pertanyaan wartawan. Dia bersama Sigid Haryo Wibisono menyadari bakal menjadi sorotan karena berstatus mantan narapidana. Meskipun berada di sorotan yang sama, Fahd mengaku tak pernah mengenal Sigid sebelumnya. ”Baru kenal setelah menjadi pengurus,” kata Fahd.

Pengakuan Fahd rupanya tak sepenuhnya benar. Di tengah jeda rapat pleno saat listrik padam pada Kamis pekan lalu, Fahd menghampiri Sigid, yang sedang berbincang dengan Tempo. ”Tadi ada wartawan yang bertanya apa aku kenal Mas Sigid atau tidak,” ujar Fahd sembari menyalami koleganya itu. Belum sempat Sigid menyahut, Fahd melihat Tempo. ”Lho, ini orangnya,” katanya sambil tersipu-sipu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *