MENANTI JATAH DARI ISTANA

MENANTI JATAH DARI ISTANA

PERTEMUAN dengan Presiden Joko Widodo kini menjadi kegiatan yang sering dilakukan Ketua Umum Golkar Setya Novanto. Dua pertemuan empat mata dilakukan Setya dalam dua pekan terakhir. Isu yang dibahas pun beragam, dari soal situasi politik nasional, kondisi partai, hingga visi pemerintah. ”Ya, kami bicara heart to heart,” kata Setya, Jumat pekan lalu. Pertemuan pertama berlangsung setelah Setya bersama jajaran pengurus baru Golkar menyampaikan hasil musyawarah nasional partai berlambang pohon beringin itu, yang digelar pada pertengahan Mei lalu, ke Jokowi.

Pertemuan khusus itu berlangsung sekitar sepuluh menit. Setya dipanggil ke salah satu ruangan di Istana Merdeka setelah Ketua Dewan Pembina Golkar Aburizal Bakrie dan Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham, yang ikut datang ke Istana Merdeka, keluar lebih dulu. Keesokan harinya, Jokowi kembali memanggil Setya ke Istana. Kali ini mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat itu datang sendiri.

Menurut pengurus Golkar yang mengetahui pertemuan itu, keduanya membahas rencana Golkar masuk kabinet. Dalam pertemuan itu, muncul dua nama yang disiapkan Golkar. Kedua nama itu adalah Idrus Marham dan Ketua Koordinator Bidang Perekonomian Golkar Airlangga Hartarto. Setya mengaku tidak pernah menyodorkan nama kepada Presiden dalam pertemuan. Tapi ia mengatakan Golkar siap jika Presiden meminta salah satu kader masuk kabinet. Mengenai nama Idrus dan Airlangga yang mencuat, Setya mengatakan keduanya memiliki keahlian masing-masing.

”Pak Idrus secara politik punya visi, sementara Airlangga berpengalaman di perbankan,” katanya. Ketua Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Golkar Yorrys Raweyai tak menyangkal sudah ada pembicaraan internal mengenai masuknya Golkar ke kabinet. ”Kalau diminta, kami siap,” katanya. Idrus dan Airlangga mengaku tidak tahu-menahu namanya disorongkan sebagai calon menteri oleh partai. ”Kader kami banyak, tergantung Presiden,” ujar Idrus.

Seorang petinggi Golkar mengatakan pembicaraan antara Istana dan partai mengenai posisi bagi Golkar sudah berlangsung sebelum Munas Bali yang memilih Setya sebagai ketua umum. Pembicaraan soal ini, kata dia, sudah dibahas Aburizal Bakrie saat bertemu dengan Jokowi di Istana pada 12 Mei lalu. Dalam pertemuan itu, ujar sumber ini, sudah ada pembicaraan awal mengenai ”jatah” Golkar di kabinet. Pertemuan antara Jokowi dan pengurus Golkar pada 24 Mei lalu, menurut dia, menjadi semacam finalisasi soal siapa kader yang akan disodorkan untuk dipilih Presiden.

Belakangan, nama calon menteri yang akan diusung Golkar mengalami perubahan. Seorang pengurus Golkar yang berdiskusi dengan Setya Novanto mengatakan nama yang disetor Golkar direvisi. Menurut dia, Airlangga dicoret, Idrus tetap disodorkan. Dua lain yang mencuat adalah menteri di era Presiden Soeharto, Siswono Yudo Husodo, dan bekas Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo.

Setya punya pertimbangan tersendiri mengenai dua nama baru yang diajukan. Menurut dia, keduanya merupakan mantan menteri yang sudah tentu berpengalaman dalam pemerintahan. Dari hasil pembicaraan empat mata dengan Presiden, Setya yakin Jokowi sudah memiliki penilaian terhadap kinerja menteri serta pos kementerian apa yang harus diperbaiki.

Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi Sapto Pribowo mengaku tidak mengetahui sudah ada pembicaraan antara Presiden dan Setya mengenai reshuffle kabinet. Menurut dia, perombakan kabinet sepenuhnya menjadi hak prerogatif Presiden. Sekretaris Kabinet Pramono Anung juga tak tahu-menahu. ”Tanya saja ke Presiden,” katanya.

Website : kota-bunga.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *