Agar Sang Pengasuh Betah

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu mengetahui penyebab yang umumnya membuat pengasuh enggak betah. Menurut Della, 80% penyebab seseorang tidak menampilkan kinerja terbaiknya ternyata terkait faktor pengondisian. Ini berlaku juga untuk pengasuh. Adapun faktor-faktornya adalah kejelasan instruksi, konsistensi aturan main/prosedur, tingkat kerumitan tugas, ketersediaan fasilitas, dan bantuan serta bimbingan.

Baca juga : kursus bahasa Jerman di Jakarta

Jadi, kalau kita tidak memberikan instruksi yang jelas, apalagi setelah pengasuh mengerjakan tugas, kita komplain, ya jelas kalau pengasuh jadi enggak nyaman. Lo… dia kan bisa tanya kalau enggak ngerti? Betul, tapi mohon selalu diingat, tidak semua pengasuh terbiasa mengonfi rmasi kembali instruksi yang sudah kita berikan, sehingga bisa jadi salah tangkap. Terlalu kaku pada aturan juga bisa membuat pengasuh tidak betah.

“Mereka yang dikondisikan terlalu ketat bisa membandingkan dengan pengalaman sebelumnya atau dengan rekan sesama pengasuh. Jadi, saat mengomunikasikan aturan, beri kesempatan pada pengasuh untuk berdiskusi sehingga ia memahami mengapa kita menerapkan aturan seperti itu,” tutur Della. Kerumitan tugas juga tidak jarang menjadi sumber masalah mengapa pengasuh pergi. Untuk itu, perhatikan, apakah tugas-tugas yang dibebankan masih berada dalam kapasitas mereka.

Ketika terlalu percaya dengan kemampuan pengasuh, terkadang kita lupa mengevaluasi kembali apakah mereka masih nyaman dengan beban yang diberikan. Ajak bicara, tanyakan apa kesulitan yang dihadapi, jembatani dan fasilitasi, serta hargai apa yang telah dilakukan (meski belum sempurna). Hal-hal ini dapat meningkatkan keyakinan bahwa mereka sanggup menghadapi tugas rumit tersebut. Beri tambahan tenaga bantuan, bila memang dibutuhkan.

Perlukah Bertenggang Rasa?

Tentu kita perlu bertenggang rasa, pertanyaan selanjutnya seberapa besar tenggang rasa itu? Della menjelaskan, bahwa tenggang rasa ini harus dimaknai dalam dua hal. Pertama, dalam bentuk memberi toleransi/kesempatan pada pengasuh untuk belajar dan meningkatkan keterampilannya sehingga memenuhi harapan kita. Yang kedua, merasakan apa yang mereka rasakan dan butuhkan, karena mereka juga manusia sehingga kita dapat memberi ruang pada mereka untuk menikmati juga quality time-nya.

Rahasia Mencerdaskan Si Kecil

Permainan pertama adalah bermain lawan kata. Ambillah satu set gambar sederhana dan tunjukkan satu demi satu pada si kecil (bisa dimulai di usia 3 tahunan). Misal, gambar pertama adalah gambar matahari. “Ketika Mama menunjukkan gambar itu kepada si kecil, minta ia untuk me ngatakan ‘malam’ bukan ‘siang’,” ujar Tracy (atau bulan dan bukan matahari). Apakah anak belum siap untuk permainan kosakata? Cobalah untuk melakukan permainan ketukan irama.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

“Pukul drumnya satu kali,” lanjut Tracy, “Dan minta anak Mama memukulnya dua kali.” Kedua permainan itu tujuannya untuk meminta anak berhenti, berpikir sejenak, dan mengesampingkan respons yang muncul pertama kali. Kedua permain an ter sebut cocok untuk anak-anak berumur 3 dan 4 tahun. “Mama juga bisa mengembangkan permainan lain yang juga meng asyikkan seperti ke dua permainan tadi,” lanjut Tracy.

Rahasia 4: Memberi ruang untuk kreativitas. Kreativitas tidak akan bisa muncul begitu saja. Mama harus bisa untuk memberi rangsang pada anak agar ia dapat mengasah kemampuannya dan menjadi lebih kreatif. Bagaimana caranya? Seperti apa arena bermain terbaik untuk anak? Menurut John Medina, penulis buku Brain Rules for Baby and Toodlers (Pear Press; Second Edition , London – 2014), untuk mendorong kreativitas alami anak, ciptakanlah lingkung an yang bisa menstimulasi daya ima jinasinya. Bukan berarti Mama harus menciptakan satu ruangan bermain khusus lalu memenuhinya de ngan mainan-mainan terkini ataupun yang tercanggih, lo. Faktanya menurut Medina, satu kardus kosong dan beberapa krayon sudah bisa jadi mainan terbaik di dunia.

Bahkan, mainan semacam itu akan memberikan anak waktu dan juga ruang yang ia butuhkan untuk mencoba membuat hal-hal baru. Selain itu, Mama juga bisa mencoba menggunakan sejumlah sudut ruangan yang bisa si kecil gunakan untuk bermain atau memainkan alat musik, satu sudut yang lain untuk menggambar dan mewarnai, satu lagi untuk membangun balok-balok dan mainan konstruksi, sementara yang satu lagi untuk berganti kostum dan bermain peran atau jenis mainan lainnya, yang penting bisa mendorong kreativitas si kecil.

Sumber : pascal-edu.com